Memang bahaya sekali bila tanggapan2 yang keluar itu otomatis terucap. Kita mengucapkan tanpa pikir panjang karena sudah kebiasaan diucapkan. Kalimat tanya di judul di atas adalah satu contoh salah penggunaan kalimat untuk menanggapi keluh kesah orang lain.
Coba bayangkan, diri anda sedang menceritakan awal kekesalan atau kesedihan anda kepada teman anda. Lalu, teman anda menanggapi dengan kalimat singkat, “masa sich?” . Apa yg anda rasakan dengan tanggapan seperti itu? Gw pribadi merasa itu sebuah ungkapan ketidakpercayaan akan cerita gw. Ada ketidakempatian. Kalau lagi sensitif, gw biasanya ga mau nerusin cerita sedih itu karena sepertinya akan kurang mendapat tanggapan. Kalau lagi pengen banyak ngomong, diterusin ceritanya dengan singkat.
Mungkin tidak terlalu berat dampaknya bila kita ucapkan kalimat itu kepada teman kita. Toh, teman kita masih mau berpikir positif tentang kita. Tapi, bagaimana bila customer yang mendapat perkataan ini dari mulut kita dan mengadukan ketidaksenangannya sampai ke level management? Gawat….
Ini pelajaran penting untuk kita agar sering2 mempertanyakan sendiri kalimat2 singkat yang sering kita ucapkan secara otomatis dalam menanggapi suatu hal.
Sebagai contoh, gw ambil kalimat yang nge-trend di ucapkan banyak orang untuk kita bahas sedikit. “EGP!”, “Emang gue pikirin”, “au ahh gelap”, adalah beberapa contoh kalimat singkat yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap kawan bicara. Dan menariknya kalimat-kalimat itu seperti virus yang cepat menular ke berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, dianggap kurang gaul bila tidak menggunakan kalimat2 pendek itu. Entahlah, apakah ada hubungan antara penggunaan kalimat2 singkat itu dengan turunnya tingkat kepedulian sosial dan individualisme. Saya belum pernah baca hasil penelitian mengenai hal itu, kecuali tulisan tak ilmiah ini. He-he-he….
Untuk anda pikirkan, saya berikan satu contoh kalimat yg sering digunakan di berbagai komunitas: “cape deh…” Bagaimana pendapat anda tentang orang yang mengatakan ini? Atau, apa yg terjadi dengan diri anda bila sering mengucapkan kalimat ini kepada orang lain? Apakah anda merasa kekuataan anda berkurang?
Kalau anda merasa sulit menjawab pertanyaan di atas, katakan saja: “ya gitu deh…. “