PERJUMPAAN DENGANNYA
sebuah catatan pribadi yang perlu disampaikan….
PERJUMPAAN DENGANNYA
Akhirnya, setelah tertunda sebulan dari rencana awal, Sabtu ini, 3 September 2005, gw berhasil bangun pagi-pagi sekali, sehingga dapat berangkat untuk ikut kebaktian. Berangkat dari depan halte Bukopin, transit di Tugu Pancoran dan Ps. Minggu, lalu gw naik kereta api kelas ekonomi sampai Stasiun Bogor dan berjalan 5 menit menuju Jl. Paledang No. 2.
Walau gw ngga bawa senar nylon nomor 4 pesanannya (gw sudah nyari dan ngga dapet), dengan gembira dia menerima Manna Sorgawi edisi September 2005 yang ada pendalaman Alkitabnya itu dan harian Kompas Sabtu.
Gw tau, rekan2 naposo tujuhbelasan kemarin di sana. Tapi karena gw pengen “beduaan” aja sama Ronald, gw ngga ikut. Eh ternyata… kebaktian hari ini Ronald juga ditemani oleh orangtuanya. Apa boleh buat, gw dan Ronald harus membagi perhatian dgn Amang dan Inang Aroean.
Gw dapat masuk LP Kls. IIA Bogor tanpa uang gembok karena masuk berbarengan dengan pelayan2 Tuhan dari GBI (Batu Penjuru) pukul 9 pagi. Gw ngga tau ya, apakah ada “pertempuran terselubung” antara GBI dgn HKBP. Ketika gw bilang dgn ramah bahwa gw jemaat HKBP, muka pelayan firman itu agak cemberut. Melihat air mukanya, gw jd agak sensi dan memilih diam. Dalam hati: “Tenang aja Pak, gw ngga mencuri domba2 lu”. Tapi kebekuan suasana tsb mencair setelah gw proaktif membantu mengangkat konsumsi yang telah disiapkan oleh mereka dan pendeta itu juga menyatakan gw sebagai rombongannya. Selama dalam perjalanan menuju ruang ibadah di lantai 2, pikiran gw mencari jawaban: “kira2 apa ya yang disampaikan hamba Tuhan ini nanti?”
Kebaktian dimulai. Kami -Ronald, ortunya, dan gw- duduk di tempat paling belakang. Puji-pujian yang diangkat diiringi dengan sebuah gitar. Sebagian besar dari mereka antusias mengikuti kebaktian. Kami juga. Kemudian, 2 napi melanjutkan dengan pengakuan akan masa lalu mereka yang kelam. Yang pertama, seorang mantan anggota Brimob yang telah menyadari bahaya kesombongan yang diaplikasikannya dengan tidak mau menginjak gereja selama 7 tahun (padahal dia adalah putra seorang pendeta!). Bertolakbelakang dgn anak muda sebelumnya, lelaki selanjutnya justru rajin masuk ke gereja setiap dia melihat gereja dalam perjalannya. Bahkan pria setengah baya ini membelikan alat2 musik u/ dua gereja dari hasil merampok. Yang lucu (atau aneh?), sebelum dia mulai aksi kejahatannya, dia selalu berdoa agar Tuhan Yesus melindunginya.
Sehabis kesaksian tersebut, Pdt Abraham memberikan renungan. Pada 5 menit pertama kotbahnya, entah karena dia bisa membaca pikiran gw atau karena Roh Kudus memakai lidahnya, gw tersenyum lebar. Kata2 yang meluncur ke luar dr mulutnya menjawab sebagian pergumulan gw. Masa sih, di kebaktian untuk napi dia berbicara ttg bagaimana mendapatkan jodoh/tulang rusuk yang hilang. Dan memang, dia mengkonkritkan apa yang harus gw lakukan. Oh iya, tema kotbahnya: Kebahagian sejati didapat dengan perbuatan. Gembala yang memiliki 2 putri ini memang tak banyak bicara ttg iman atau asyik “berkonkordansi” sendiri di atas mimbar. Justru di akhir kotbah dia mengingatkan persekutuan doa/ kelompok sel yang telah ada harus banyak berbuah dalam kasih.
Kata Ronald, seharusnya dia lah yang memimpin pujian (MC) di kebaktian kali ini. Cuma karena kedatangan gw dan ortunya, dia off dulu. Sayang, gw ngga liat Ronald nyanyi waktu grup vokalnya memberikan persembahan pujian. Ronald main gitar sih.
Dan tugas gw yang diundur-undur melulu akhirnya kelar. Ronald seneng banget menerima penutup sikat gigi pilihan K’Romi sebagai kenang2an CCA 2004. Memang, pengalaman pertama gw kebaktian bersama penghuni hotel prodeo mempunyai kesan tersendiri sehingga gw dokumentasikan dalam tulisan. Namun, permintaan Ronald agar gw sering main ke sana saat hari libur, membuat hati gw gundah. Otak ini segera menyusun kalimat: “Nald, ini mungkin yang terakhir. Plizzz… jangan harapkan gw main ke sini.”
Tapi gw ngga sanggup mengucapkannya. Gw ngga mau kunjungan kasih ini berujung dengan kesedihan.
Leo MS
030905