Java Jazz 2008 dan Gadis Silver
Mungkin ini boleh disebut berkat Tuhan. Setelah pulang kebaktian di GPIB Effatha, gue dapat tiket gratis nonton
Java Jazz ‘08 di JHCC. Tiket dikasi teman kantor gue, Wendy. —>
Pelajaran pertama di tanggal 9 Maret kemarin, memiliki tidak sama dengan menikmati. Gue punya tiket nonton, tapi gue ngga terlalu bisa menikmati musik jazz. Gue ngga ngerti jazz. Gue seperti anggota gerombolan sebagian warga Jakarta yang datang ke sana karna sok suka Jazz dan biar kelihatan punya selera musik yang beda dengan yang lain. Tapi setidaknya, beberapa pengalaman bisa gue tuliskan. Salah satunya, ya seperti kutipan dari orang bijak di atas, memiliki tidak sama dengan menikmati.
Seperti yang disampaikan sebuah majalah, emang rada berantakan penyelenggaraan festival ini. Gue bingung masuknya dari mana, karna minimal ada 2 pintu masuk: untuk penonton dan yang ber-ID. Ngga cuma kami saja yang nyasar, seorang janda kembang kenamaan bersama teman bulenya juga tersasar. Tapi untunglah masih banyak orang baik yang memberi tahu pintu masuk untuk penonton. Tidak semua penonton punya jadwal tampil tiap musisi dan ruangnya. Mungkin di festival berikut penonton perlu diberikan semacam kartu, pembatas buku, atau sejenisnya yang berisi jadwal tampil.
Sampai di dalam, kami keliling dan nonton beberapa musisi
dalam dan luar negeri. Tiga grup aja gue ceritain yaitu: Lima Wanita, Manhattan Transfer, dan Incognito. Masing-masing punya kelebihan. Lima Wanita tampil bagus, baik secara individu (solo) maupun bersama. Mereka tampil dengan persiapan yang cukup matang. Sayangnya penonton lebih suka diam ketimbang nyanyi bersama mereka yang sebenarnya cukup aktraktif dan rapi.
Andien menjadi sosok perhatian gue dari 4 wanita lainnya.
Gue kagum dengan kemampuannya. Satu hal yang penting disampaikan, dia hampir hapal semua lagu yang dinyanyikan Lima Wanita, walaupun itu bukan jatahnya mengeluarkan suara. Terlihat dia bernyanyi dengan volume suara kecil tak terdengar (komat-kamit) ketika rekan2nya sedang solo. Tapi sayangnya, mengapa engkau berpakain mini, Andien? Kamu cantik, kemampuan menyanyi pun bagus, tapi mengapa kamu masih memamerkan pahamu yang putih itu?
Sehabis nonton Lima Wanita, gue pilih nonton Manhattan Transfer (MT) ketimbang musisi2 jazz yang lain. Alasannya sederhana, gue tahu nama grup ini dari file mp3 di komputer gue. Gue baru tau, ternyata kwartet ini punya nama besar. Dan memang, mereka punya talenta lebih di bidang nyanyi dan mereka pastinya rajin latihan. Pembagian suaranya mantab dan tekniknya nyanyi bagus. Keren abizz. Untuk urusan sound system , lebih bagus MT daripada LW. Ya wajarlah, penonton aja ngantrinya lebih dari setengah jam. Kru MT pasti lebih siap untuk check sound. Perlakuan panitia emang beda untuk artis luar, seperti yang diutarakan beberapa artis lokal di majalah G*TR*,
Sehabis nonton MT, ternyata pintu masuk untuk Incognito sudah dibuka. Siapa aja boleh masuk. Langsung aja kami nonton. Disinilah gue bisa ikutan nyanyi, diantaranya “Still A Friend of Mine”. Mereka tampil bagus termasuk musisi2nya. Tidak kalah dengan MT. Kurangnya cuma satu, motion (pergerakan) di panggung kurang. Terasa kaku. Beda dengan Lima Wanita dan MT yang masing-masing sering pindah posisi berdiri. Kadang di tengah, paling kiri, paling kanan, bahkan “bercengkerama” dengan pengiring. Tapi kami ngga lama nonton Incognito. Setelah 3 lagu, kami putuskan pulang. Sudah hari Senin. Tujuh jam lagi kami harus kerja.
Satu penyesalan gue disana adalah gue ngga kenalan dengan satu cewe yang menurut gue pas cantiknya. Banyak gadis-gadis cantik yang gue liat disana, tapi ngga membuat gue berniat kenalan. Too beautiful. Tapi, gadis ini…. Pas!
Sepertinya dia sedang mensurvey sebuah produk, karena gue liat dia memegang berbagai kertas yang jumlahnya hampir ¼ rim. Gue sempat mengabadikannya dengan W810. Dia tahu itu dan segera “melarikan diri” dari gue. Mungkin marah karena dirinya difoto tanpa izin. Gue coba mencari gadis itu 3 kali keliling ruangan untuk minta maaf dan mengajaknya kenalan. Tapi dia menghilang di tengah keramaian. Sial.
Dan gue sekarang hanya bisa memandang dia dengan baju peraknya dari hp saja. Pengen gue pampang fotonya di blog ini, tapi gue ngga mau dia marah lagi, walaupun gue yakin dia tetap cantik walaupun dalam keadaan marah. Hehehe….
Semoga saja kita bertemu lagi, hai Gadis Silver.