Pentakosta dan Semangat Belajar
Sunday, May 11, 2008“What have you learned today?
Apakah yang kamu pelajari hari ini?
Apa itu Pentakosta?
Bagaimana ceritanya?
Apa yang tadi diceritakan kakakmu di Sekolah Minggu?”
Kira-kira seperti ini gambaran pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orangtua yang niat membawa anaknya ke dalam terang Tuhan dan selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya di hari Minggu ini.
Kalau anak itu sudah masuk kelas besar (SMP), sepertinya ia akan menjawab arti kata Pentakosta based on KPR 2. Kalau GSM-nya menyukai sejarah atau pendalaman Alkitab, mungkin anak itu akan menjawab dengan perbandingan kisah Pentakosta di PL dan di PB. Atau boleh jadi anak itu menggambarkan Roh Kudus seperti angin. Ada dan eksis, tetapi tidak kelihatan. Bisa juga, anak ini menyampaikan apa itu buah-buah roh. Kalau anak itu punya kemauan, mungkin akan terjadi dialog interaktif membahas Roh Kudus. Tentu, ini terjadi dengan prasyarat orangtuanya juga komunikatif.
Karena postingan ini tidak untuk ASM, tidak perlu panjang lebar dijelaskan lagi jawaban untuk pertanyaan ketiga dan keempat di atas. Yang mau sampaikan adalah Roh Kudus yang memperbaharui.
Kita ingat bahwa setelah Yesus ditangkap, murid-murid ketakutan. Dalam ketakutan dan kesedihan melihat Yesus dianiaya, Petrus menyangkal dan melarikan diri dari pelataran rumah Imam Besar. Murid-murid yang lain bersembunyi bahkan ada juga yang melarikan diri seperti Kleopas dan satu lagi temannya (anonim) ke Emaus. Kedua orang terakhir ini dikatakan orang bodoh oleh Yesus.
Setelah berulang-ulang penampakan Yesus dalam kurun waktu 40 hari, akhirnya Dia terangkat ke Sorga. The End. Film telah selesai, Sang jagoan pulang kampung. Begitu kata seorang pendeta mencoba menganalisa mengapa hari Kenaikan Tuhan Yesus tidak dirayakan seramai Natal dan Paskah dengan mengibaratkan kehidupan Yesus di bumi ini seperti sebuah pertunjukan film. Kalau Natal adalah part ketika sang Jagoan datang, ketika Jumat Agung adalah dimana serunya sang Jagoan berantem. Dan ketika Paskah, sang Jagoan memenangkan pertarungan. Ada benarnya juga ya analogi pendeta yang telah pulang ke pangkuan Bapa ini. Tapi postingan ini belum berakhir disini. Masih berlanjut kisah tentang Yesus ke paragrap-paragrap selanjutnya,
Yesus terangkat ke Sorga, murid-murid kembali ke Yerusalem dan berkumpul di sebuah tempat di ruang atas (Upper Room). Di sana mereka berdoa dengan tekun. Di hari kelimapuluh, Roh Kudus turun seperti yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Mereka berbahasa lain dari bahasa sehari-hari. Lalu, Petrus dengan lantang berkhotbah di hadapan berbagai golongan dan kelas masyarakat. Pelajaran dan pengalaman bersama yang diterima dari Gurunya dibagikan bagi banyak orang untuk menyelamatkan banyak jiwa. Mereka tidak lagi takut menderita dan mati. Turun dan adanya Roh Kudus dalam diri mereka membuat perbedaan pada persekutuan jemaat gereja purba ini. Agitasi, ancaman, dan penderitaan tidak menjadikan mereka gentar. Terjadi pembaharuan, tidak hanya bagi murid-murid tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan hasilnya terasa sampai saat ini.
Coba anda analisa bila keyakinan tetangga sebelah yang menekankan kekerasan itu menjadi ideologi tunggal untuk dunia ini, khususnya di Indonesia. Anda semua perempuan- wanita-wanita cantik- akan sering dimadu, dijadikan istri kedua, istri ketiga, dst. Dan mungkin kami yang laki-laki akan makin sering tidak mengucap syukur karena tidak bisa mengagumi hasil ciptaan Tuhan berupa wajah-wajah cantik karena setiap wanita dewasa harus ditutupi dengan cadar. He-he-he….
Serius nih, kalau fundamentalis “si bungsu bin Abrahamic” mendominasi, makin banyak orang-orang yang mati muda karena pedang terhunus demi sebuah kata kebenaran menurut versinya. Makin banyak anak tanpa orangtua, lalu mereka tumbuh tanpa kasih sayang. Saat usia dan kompetensi mereka cukup untuk berperang, mereka akan membalas dendam karena diperlakukan begitu di masa lalu. Dan … lingkaran setan tercipta.
Kembali bicara pembaharuan, di tanah Batak pun mengalami ini. Selain bertuhan yang benar, kedatangan misionaris-misionaris membuat kita paham akan arti penting pendidikan. Simaklah lirik lagu Batak ini, “hu gogo pe mansari, arian nang botari, lao pasikolla on gelengki” (Kuperkuat dalam bekerja, siang dan malam, untuk menyekolahkan anakku). Betapa cintanya orang Batak akan dunia pendidikan (baca: dunia sekolah), sehingga ada kebanggaan bila memajang titelnya. Walau kita tidak suka memajang titel, harus dihormati orang yang memasang titel dalam namanya. Ada usaha dalam memperoleh titel itu. Lagipula, mempunyai gelar kesarjanaan menyenangkan hati orangtuanya dan mengingatkan orang lain yang membaca titel itu untuk segera menyelesaikan pendidikan formalnya.
Satu hal yang menarik, ada anggapan umum dalam masyarakat Indonesia (khususnya suku Batak) bahwa kalau sudah bersekolah, dia menjadi orang berpendidikan. Kedatangan Bill Gates ke Indonesia baru-baru ini mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak hanya didapat di bangku sekolah saja. Dalam setiap langkah perjalanan hidup kita, akan banyak pelajaran-pelajaran yang kita dapatkan. Melihat teman sekantor menderita karena bunga-berbunganya hutang kartu kredit membuat kita mulai meninggalkan gaya hidup konsumtif. Pertemuan dengan orang-orang yang hobi bullying membuat kita belajar bersabar dan mampu bersikap positif. Berdiskusi dan bertukar pengalaman di forum/komunitas spesifik di dunia internet membuat wawasan dan pengetahuan kita bertambah yang akhirnya mengubah satu persatu prilaku buruk.
Kita paham, Roh Kudus tidak memberi jawab untuk persoalan 3 kali 7 sama dengan berapa, tidak memberi tahu bagaimana cara menghitung kancing yang benar ketika ujian akhir semester berlangsung, atau tidak memberi solusi bagaimana menurunkan harga minyak dunia secepatnya. Peran utama Roh Kudus dalam proses keselamatan kita adalah menyatukan kita dengan Kristus. Roh Kudus menghibur kita, para musafir, yang sedang menumpang di dunia ini. Mengingatkan kita untuk bersyukur dan terus memperbarui diri kita agar sesuai dengan ketetapan-ketetapanNya. Dalam setiap pengakuan dosa, kita diingatkan bahwa Tuhan itu baik dan menginginkan kita berubah ke arah yang lebih baik. Tuhan kita bukanlah gembala yang kejam yang mematahkan kaki domba peliharaannya. Tuhan kita adalah gembala yang mau turun mengambil domba binal yang jatuh ke jurang yang dalam dan menggendongnya ke atas, sehingga domba itu dapat bersandar di dada gembala tersebut.
Adalah bodoh belajar dari kesalahan sendiri. Belajar dari kesalahan orang lain adalah bijak. Tetapi, kita dapat hidup lebih baik lagi bila kita mau memulai dengan mengetahui dan menyadari kesalahan, lalu belajar dari kesalahan itu agar tidak mengulanginya. Kesalahan yang terjadi tidak melulu disesali, tetapi dijadikan umpan balik untuk aksi ke depan. Barangkali bila Adam dan Hawa mau mengakui pelanggaran mereka dan tidak menyalahkan pihak lain, boleh jadi dua sejoli itu tidak diusir dari Taman Eden.
Belajar itu seumur hidup. Semua pasti sudah tahu kalimat itu. Tapi, daging yang lemah ini membuat kita malas belajar. Banyak orang tua di sekitar lingkungan kita yang sudah yakin dirinya tidak mampu membangunkan dan memelekkan dirinya dari kebutaan internet. Sehingga kearifannya, kemampuan profesinya dan kompetensinya hanya dapat dinikmati secara terbatas. Andaikata mereka mau bersukacita dalam mempelajari hal-hal baru bagi dirinya, mungkin banyak junior-junior dari berbagai belahan yang tercerahkan dalam posting-postingan berbobot di blog-pribadinya.
Pembaruan diri akan terjadi melalui proses pembelajaran. Belajar kadang bukan hal yang menggembirakan. Belajar lebih sering melelahkan. Tetapi, kata lelah agaknya harus dihapus dalam kamus para pembelajar (learner) karena belajar merupakan kebutuhan, bukan kewajiban. Kita belum berjenggot putih, ‘kan? Masih banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari dengan menyenangkan dan penuh sukacita.
Sebagai penutup postingan ini, yuk kita menanyakan ke diri kita masing-masing, pribadi lepas pribadi setiap hari, apa yang saya pelajari hari ini?
Selamat hari Pentakosta, kawans.
May the grace of the Lord Jesus Christ be with our spirit,
leosihaloho.
20080511
Posted by leosihaloho
Mungkin ini boleh disebut berkat Tuhan. Setelah pulang kebaktian di GPIB Effatha, gue dapat tiket gratis nonton 